Budaya Tertib Menggunakan Alas Kaki
Budaya tertib, wow andai ini sudah mendarah daging pada diri kita semua selaku anak bangsa, maka saya yakin negeri tercinta ini akan menjadi negara ideal yang aman, damai, maju dan sejahtera. Bagaimana tidak, bayangkan saja andai semua pengguna jalan tertib berlalu lintas, pastilah tingkat kecelakaan lalu lintas bisa diminimalkan. Tidak perlu ada angkot nyenggol motor, motor nyenggol pantat pejalan kaki dan lain sebagainya. Itu baru satu sisi andai budaya tertib di jalankan. Coba kita bayangkan andai budaya tertib ini bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, dalam seluruh kegiatan kita dalam menjalani kehidupan dari hal yang dianggap kecil atau sepele sampai hal-hal yang dianggap besar atau penting.
Kali ini saya akan mengangkat suatu sisi budaya tertib dari hal yang mungkin orang anggap sepele, yakni tertib menggunakan alas kaki. Kita tahu baiknya sih menggunakan alas kaki itu yang kanan dulu, baru yang kiri. Ya itu menurut guru ngaji yang diajarkan pada saya waktu kecil. Nah bagaimana kalau menggunakan alas kaki tersebut kita sendiri tidak tertib alias ingin kedua kaki masuk alas kaki berbarengan, bisa jatuh tuh badan kita dan jadi tontonan orang. Gak percaya, coba praktekan saja di tempat masing-masing. Silakan gunakan sandal kanan dan kiri anda seara berbarengan!
Budaya tertib menggunakan alas kaki tidak berhenti sampai disitu. Seusai jumatan pastilah kita kembali menggunakan alas kaki yang umumnya berupa sendal, dan tersimpan di luar masjid. Nah bayangkan jika berebutan dan tidak tertib, apa yang terjadi. Kaki jamaah shalat jumat pasti saling menginjak karena saking buru-burunya, ya bagaimana kalau ditambah dengan saling menonjok karena kaki yang terinjak ternyata jempolnya sedang bengkak. Lebih parah lagi, bisa jadi sandal yang kita pakai akan tertukar, bagus kalo ketukarnya sama yang bagus, kalau sama yang jauh lebih jelek, apa kata si cinta.
Saya punya pengalaman, sesusai shalat jumat saya menjadi jamaah yang tersisa, yang berdiri di serambi masjid. Bukan karena saya adalah jamaah yang dzikirnya paling lama, tapi saya tidak kebagian sandal. Andai pun ada sandal yang tersisa jelas itu bukan sandal saya. Untungnya ada warung di dekat masjid itu lantas saya pun membeli sandal. Karena apa jadinya jika saya pulang ke kantor tanpa menggunakan alas kaki, bisa luntur reputasi saya. Kejadian ini bukan pertama kali menimpa saya, dan terkadang ada juga orang lain yang jadi teman senasib seperti saya. Akhirnya ini saya jadikan pelajaran, bahwa kita harus benar-benar tertib memposisikan alas kaki dan tertib dalam menggunakan alas kaki.
Itulah hal sepele tentang budaya tertib yang saya sampaikan. Harapan saya dengan contoh sepele saja ternyata terungkap pentingnya budaya tertib, apalagi untuk hal-hal yang lebih besar dan lebih penting. Budaya tertib itu akan terwujud jika setiap diri manusia berpikir akan memulai budaya tertib dari dirinya sendiri, memulai budaya tertib dari hal-hal yang sepele, dan mulai dari saat ini melakukan budaya tertib tersebut. Bebek aja bisa berjalan tertib, kenapa kita tidak. Semut aja bisa, kenapa kita tidak. Semangat!
Gambar dicopas dari blog Pak Dhe
Tags: budaya tertib, kuis reboan
Agustus 3rd, 2011 at 11:18
Saya telah membaca artikel diatas dengan cermat
Akan langsung saya catat
Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Tak lupa saya mohon maaf atas segala kesalahan lahir dan batin. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Dari Surabaya saya kirim salam hangat
Agustus 3rd, 2011 at 14:14
setuju bro….harus slalu membiasakan diri pake alas kaki…
nice post
Agustus 3rd, 2011 at 15:18
semoga kita selalu menjadi orang yang tertib berbudaya,.. dimulai dari tertib memakai dan menempatkan alas kaki. Insya allah sisi lain akan mengikuti,..
super sekali kang achoey
Agustus 3rd, 2011 at 15:25
Semoga bisa dibiasakan tertib yg sederhana ini.
Sukses dg ikutan kontes ya Kang.
Agustus 3rd, 2011 at 15:31
hahahah….sama kayak suamiku…pulang dari masjid abis sholat jum’at nyeker…..mana panas pula, yg jualan sandal ngga ada hiks….kasihan…
Agustus 3rd, 2011 at 15:51
Semoga menang..
Agustus 3rd, 2011 at 16:24
waaah baru OL sih jadi gk bisa ikutan aduknya pakde.. sukses yaa mas kontes aduknya..
hidup sendal!! #loh
Agustus 4th, 2011 at 05:47
Tertip menggunakan alas kaki bukan berarti pulang jum’at-an pake alas kaki yang lebih bagus ya Aa, hehehhe
Kalau adik sih gak bisa kalau tanpa alas kaki, bisa masuk angin
Agustus 4th, 2011 at 05:47
Lho kok dimoderasi???
Ternyata link yang muncul pake itu…
Agustus 4th, 2011 at 10:55
Hahaha… terbayang kita bisa jatuh kalau pakai sendal atau sepatu berbarengan. Bahkan bila dilakukan sambil duduk pun tetap kesulitan kalau pakai sekaligus dua-dua.
Yang Jumatan itu, ada saja tuh orang2 yg suka mikir, ah cuma sendal ini, jadi main pakai saja sembarang…. yg sendalnya hilang yang kemudian jd sebel.
Agustus 4th, 2011 at 11:31
Hal sekecil apapun, Allah maha tahu ya, jadi jangan coba coba untuk melakukan hal yang membelok walau secuil pun, yukkk kita tertib dimanapun dan kapanpun
Agustus 4th, 2011 at 15:19
@pakde
makasih dah diikutsertakan
@dhymalk
sip bro
@asman
betul kang, mulai dari hal kecil
@tusada
amin. makasih bli
@nia
tapi masih diterima dengan penuh kasih sayang kan
@sibair
amin. makasih
@pendar
yup dik, gampang masuk angin juga ternyata
@zizy
jangan dipraktekan ya pakai sandal berbarengan, bahaya
@anny
betul teh, yuk!