Budaya Tertib Menggunakan Alas Kaki

3 Aug 2011

adukBudaya tertib, wow andai ini sudah mendarah daging pada diri kita semua selaku anak bangsa, maka saya yakin negeri tercinta ini akan menjadi negara ideal yang aman, damai, maju dan sejahtera. Bagaimana tidak, bayangkan saja andai semua pengguna jalan tertib berlalu lintas, pastilah tingkat kecelakaan lalu lintas bisa diminimalkan. Tidak perlu ada angkot nyenggol motor, motor nyenggol pantat pejalan kaki dan lain sebagainya. Itu baru satu sisi andai budaya tertib di jalankan. Coba kita bayangkan andai budaya tertib ini bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, dalam seluruh kegiatan kita dalam menjalani kehidupan dari hal yang dianggap kecil atau sepele sampai hal-hal yang dianggap besar atau penting.

Kali ini saya akan mengangkat suatu sisi budaya tertib dari hal yang mungkin orang anggap sepele, yakni tertib menggunakan alas kaki. Kita tahu baiknya sih menggunakan alas kaki itu yang kanan dulu, baru yang kiri. Ya itu menurut guru ngaji yang diajarkan pada saya waktu kecil. Nah bagaimana kalau menggunakan alas kaki tersebut kita sendiri tidak tertib alias ingin kedua kaki masuk alas kaki berbarengan, bisa jatuh tuh badan kita dan jadi tontonan orang. Gak percaya, coba praktekan saja di tempat masing-masing. Silakan gunakan sandal kanan dan kiri anda seara berbarengan!

Budaya tertib menggunakan alas kaki tidak berhenti sampai disitu. Seusai jumatan pastilah kita kembali menggunakan alas kaki yang umumnya berupa sendal, dan tersimpan di luar masjid. Nah bayangkan jika berebutan dan tidak tertib, apa yang terjadi. Kaki jamaah shalat jumat pasti saling menginjak karena saking buru-burunya, ya bagaimana kalau ditambah dengan saling menonjok karena kaki yang terinjak ternyata jempolnya sedang bengkak. Lebih parah lagi, bisa jadi sandal yang kita pakai akan tertukar, bagus kalo ketukarnya sama yang bagus, kalau sama yang jauh lebih jelek, apa kata si cinta.

Saya punya pengalaman, sesusai shalat jumat saya menjadi jamaah yang tersisa, yang berdiri di serambi masjid. Bukan karena saya adalah jamaah yang dzikirnya paling lama, tapi saya tidak kebagian sandal. Andai pun ada sandal yang tersisa jelas itu bukan sandal saya. Untungnya ada warung di dekat masjid itu lantas saya pun membeli sandal. Karena apa jadinya jika saya pulang ke kantor tanpa menggunakan alas kaki, bisa luntur reputasi saya. Kejadian ini bukan pertama kali menimpa saya, dan terkadang ada juga orang lain yang jadi teman senasib seperti saya. Akhirnya ini saya jadikan pelajaran, bahwa kita harus benar-benar tertib memposisikan alas kaki dan tertib dalam menggunakan alas kaki.

Itulah hal sepele tentang budaya tertib yang saya sampaikan. Harapan saya dengan contoh sepele saja ternyata terungkap pentingnya budaya tertib, apalagi untuk hal-hal yang lebih besar dan lebih penting. Budaya tertib itu akan terwujud jika setiap diri manusia berpikir akan memulai budaya tertib dari dirinya sendiri, memulai budaya tertib dari hal-hal yang sepele, dan mulai dari saat ini melakukan budaya tertib tersebut. Bebek aja bisa berjalan tertib, kenapa kita tidak. Semut aja bisa, kenapa kita tidak. Semangat!

Gambar dicopas dari blog Pak Dhe


TAGS budaya tertib kuis reboan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post